Refleksi Dari Sejarah Untuk Aceh Yang Satu “ Daud Bereueh di mata Tan Sri Sanusi Junid”

0
986

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Daud Beureueh dimata Tan Sri Sanusi Junid” Rabu 30 November 2016 di Auditorium FKIP. Acara di hadiri oleh dosen, mahasiswa dan masyarakat umum. Seminar kali ini istimewa karena disampaikan dalam bahasa Aceh.

Tan Sri Sanusi Junid merupakan politisi terkemuka Malaysia asal Aceh dan mantan Menteri Pertanian dan Menteri Pembangunan Negara dan Luar Bandar semasa pemerintahan PM Tun Mahathir Mohamad.yang menikah dengan cucu Daud Beureueh. Beliau berperan besar terhadap kehidupan masyarakat Aceh di Malaysia hal itu dibuktikan beliau pernah menjabat sebagai ketua Ikatan Masyarakat Aceh Malaysia (IMAM). Tan Sri Sanusi Junid dilahirkan di Yan Kampung Acheh Negeri Kedah pada 10 Juli tahun 1943. Di wilayah Yan ini sejak dulu telah bertapak kumpulan masyarakat Aceh dan membentuk kampung yang dikenal dengan nama Kampung Acheh. Hingga saat ini kampung tersebut masih ada, dan diklaim sebagai satu-satunya wilayah di luar Aceh di dunia yang penduduknya masih bertutur dalam bahasa Aceh. Moderator seminar adalah Drs. Mawardi M. Hum, MA, Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA). Kantor PDIA sendiri berada dalam kompleks Museum Aceh, Banda Aceh.

Daud Bereueh 3Seminar Nasional ini akan diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sejarah (HIMAS) FKIP Unsyiah.  Acara ini tidak hanya dikhususkan bagi mahasiswa sejarah, namun terbuka untuk masyarakat umum, yang merupakan sebuah upaya untuk mengingatkan kembali akan sejarah Aceh tentang Daud Beureueh yang simpang siur. Ketua acara sekaligus ketua Umum HIMAS, Muammar, mengharapkan melalui kegiatan seminar ini kita bisa melihat dan menjadikan tolak ukur bagaimana perjuangan pendahulu kita dalam berjuang untuk bangsanya, seperti halnya Daud Beureueh yang rela dicap sebagai pemberontak oleh pemerintah pusat hanya untuk mengimplementasikan Syariat Islam di bumi Aceh.

Daud BereuehTan Sri menjelaskan Tgk. Daud Beureueh adalah seorang yang melaksanakan petuah Raja Aceh tahun 1507 sebanyak 21 macam, tapi hanya 5 saja yang dibahas yaitu:

  1. Amanah,
  2. Berani
  3. Disiplin
  4. Rajin
  5. Setia

Tan Sri menceritakan juga bagaimana awal perkenalan beliau sehingga bisa menikah dengan cucu Daud Bereueh sehingga memanggil Daud Beureueh dengan panggilan Abusyik Daud Beureueh. Daud Beureueh adalah ulama besar Aceh. Beliau pada masa Suharto diminta pergi keluar negeri untuk menghilangkan pengaruh politiknya. Beliau setuju keluar negeri karena 4 sebab.

Pertama beliau ingin menziarahi makam Abu Hasballah Indrapuri di Gampong Yan Keudah, ketika tiba disana beliau bertemu dengan orang Aceh dan menanyakan tentang pemuda aceh yang baik akhlaknya untuk dinikahkan dengan cucunya maka orang Gampong Yan menunjuk Tan Sri.Tan Sri kemudian berjumpa dengan Daud Bereueh yang mengujinya dengan Rukun Islam, Rukun Iman dan Sifat 20 (Sifat Allah yang penting dan wajib kita ketahui). Setelah semua ujian ilmu agama maka Tan Sri berangkat Ke Jakarta dan berjumpat dengan Hasballah Daod anak kandung Daud Beureueh yang kemudian mengujinya lagi dengan tentang perpolitikan, ternyata Tan sri politiknya adalah Politik Islam maka pulang Tan Sri kemudian dinikahkan dengan Cucu Daud Beureueh.

Tujuan kedua Abu Beureueh karena Amanah Kahar Muzakkar yang telah meninggal agar jika Abu Beureueh sampai ke Mekkah mendoakannya di Maqam Ibrahim dan Abu Beureueh turut melakukan umrah.

Tujuan ketiga beliau adalah agar dapat membeli perlengkapan Mesjid Baitul A’la yang ada di Bereueun yang beliau bangun. ketika tiba di Paris beliau hendak membeli kandil askari namun kandil itu dibeli oleh Dubes indonesia di Paris kemudian beliau ketika di Korea Duta besar Korea Jendral Sarwo Edhie Wibowo memberi beliau Pintu buatan korea untuk mesjid di bureunun dan tujuan keempat adalah beliau ingin berjumpa dengan Hasan Tiro yang ada di New York.

Tan Sri memaparkan bahwa Daud Bereuh adalah seorang ulama besar yang berbeda dengan ulama lainnya, karena biasanya seorang ulama akan berada di dayah, tapi Daud Bereueh sendiri saat ditemui sedang membuat parit, membuat sungai dan pengairan untuk pertanian. Tan Sri menambahkan Abu Beureueh adalah sosok yang bijaksana dan cenderung terbuka dan tidak ortodok terbukti bahwa beliau mau menonton bioskop, ketika Tan Sanusi menjelaskan bahwa film yang akan diputar adalah film tentang perjuangan seorang yang tidak memiliki tangan menang berperang dengan orang yang mempunyai tangan lengkap.

Daud Bereueh adalah seorang yang tidak menyimpan dendam hal ini terbukti bahwa ketika Ayah Gani membuat gerakan dewan revolusi dan turun gunung, ketika Ayah Gani wafat Daud Bereueh ikut bertakziah ke rumah duka. Ketika anak Anak Ayah Gani di jakarta diterima dengan baik dan tinggal dirumah Hasballah daud hingga selesai kuliah mereka.

Belum lama ini ada seorang anak perempuan Aceh dari Bereuenuen yang tidak mengenal siapa Daud Bereueh dan tidak mengenal Tgk. Chik Ditiro, yang bahkan namanya diabadikan menjadi nama satu jalan di Jakarta, ketika hal ini terjadi sebenarnya bukan salah anak tersebut tapi lebih kepada guru sejarah yang harus mengenalkan tentang tokoh-tokoh dan orang besar Aceh. Karena yang lebih penting dalam mendidik suatu generasi adalah menanamkan pendidikan agama, akhlak dan moral.

Daud Bereueh patut dikenang sebagai seorang pejuang Islam, bukan seorang pemberontak. Tan Sri mengatakan sebenarnya keadaan Aceh saat ini sudah menjadi seperti cita-cita perjuangan Daud Bereueh dimana Aceh sekarang sudah mempunya otonomi sendiri dan syariat Islam sudah dijalankan. Sekarang Aceh sudah memiliki Partai Aceh, sudah memiliki Institusi wali dan Aceh memiliki bendera sendiri.

Bagi Aceh sendiri masalah perekonomian tidak lagi menjadi persoalan, karena pemerintah pusat sudah memberikan dana dan ada kabar dananya harus dikembalikan karena uangnya tidak habis, yang jadi persoalan sekarang adalah bagaimana agar Aceh Maju. Caranya adalah dengan asumsi penduduk Aceh lima juta (5.000.000) jiwa, maka harus ada penduduk Aceh sebanyak 5 ribu (5.000) orang yang mempunyai sifat Amanah, Berani, Disiplin, Rajin dan Setia, maka Aceh akan maju dan masyarakatnya akan sejahtera.

Tan Sri mengatakan ada ayat dalam Al-Qur’an yang mengatakan ” Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubah apa-apa yang ada pada diri mereka ” (QS.13:11) Jadi jangan ada lagi dalam pikiran kita kalau seandainya Aceh gagal penyebabnya bukanlah orang lain tapi coba lihatlah ke cermin penyebabnya adalah diri kita sendiri apakah kita sudah menjalankan 5 hal yaitu Amanah, Berani, Disiplin, Rajin dan Setia.

Akhir kata belajar sejarah tidak untuk menghafal fakta di luar kepala tapi belajar sejarah agar dapat mengambil hikmah dari peristiwa untuk dapat dijadikan nilai pembelajaran dimasa depan.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY